Friday, 4 December 2009
Muhammad SAW dan Pengemis Buta
Muhammad SAW dan Pengemis Buta
a
Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”
Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah SAW yang dihinanya setiap hari. Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.
Setelah wafatnya Rasulullah SAW, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari sahabat terdekat Rasulullah SAW yakni Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya Aisyah RA yang tidak lain tidak bukan merupakan isteri Rasulullah SAW dan beliau bertanya kepada anaknya itu, “Anakku, adakah kebiasaan kekasihku yang belum aku kerjakan?”
Aisyah RA menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu pun kebiasaan Rasulullah yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.” “Apakah Itu?,” tanya Abubakar RA. “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana,” kata Aisyah RA.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abubakar RA mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar RA mulai menyuapinya, sipengemis marah sambil menghardik, ”Siapakah kamu?” Abubakar RA menjawab, ”Aku orang yang biasa (mendatangi engkau).” ”Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu.
”Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku,” pengemis itu melanjutkan perkataannya.
Abubakar RA tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, ”Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.”
Mendengar penjelasan Abubakar RA, seketika itu juga pengemis itu meledak tangisnya, sangat menyesal, dan dalam basahnya air mata ia berkata, ”Benarkah itu? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, tapi ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia, begitu agung…. ”
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar RA saat itu juga dan sejak hari itu menjadi muslim.[]
http://moeflich.wordpress.com/2008/03/12/muhammad-saw-dan-pengemis-buta/
Keagungan dan Kemuliaan Seorang Muhammad
Keagungan dan Kemuliaan Seorang Muhammad
a
Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memerah susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.
Sayidatina ‘Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga.
Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali sesudah selesai sembahyang.”
Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya,
“Belum ada sarapan ya Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai yang kemerah-merahan’)
Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata,
”Kalau begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.
Pernah baginda bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.”
Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda sebagai kepala keluarga.
Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang :
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?”
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar”
“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh,
kami mendengar seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan?
Kami yakin engkau sedang sakit…”
desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?”
Lalu baginda menjawab dengan lembut, ”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.”
Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.
Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.
Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swt dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.
Anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.
Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemahuan jiwanya yang tinggi.
Bila ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah, “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?”
Jawab baginda dengan lunak, “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.”
Rasulullah s. a. w. bersabda, “Sampaikan pesanku walau sepotong ayat”
http://moeflich.wordpress.com/2009/03/14/keagungan-dan-kemuliaan-seorang-muhammad/
Thursday, 8 October 2009
Bersabarlah Wahai Saudaraku
Seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat cobaan maka dia bersabar dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar. Sungguh menakjubkan keadaan seorang muslim. Bagaimanapun keadaannya dia tetap masih bisa menuai pahala.
Betapa Mulianya Sabar
Diantara ketiga keadaan ini datangnya cobaan demi cobaan terkadang membuat hati kita mendongkol, lisan menggerutu dan tangan melayang lempar sana, lempar sini, tonjok kanan tonjok kiri. Lalu apa hasilnya? Ingatlah saudaraku semoga Alloh merahmatimu, sesungguhnya Alloh menjanjikan kebersamaan-Nya yang istimewa bagi orang-orang yang mau bersabar.
Alloh Ta’ala berfirman, “Dan bersabarlah kalian sesunguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar.” (Al Anfal: 46). Inilah kebersamaan khusus yang Alloh janjikan berupa penjagaan, pertolongan dan pembelaan di saat yang dibutuhkan. Bahkan dengan kesabaran jugalah kepemimpinan dalam agama bisa diraih.
Alloh Ta’ala berfirman, “Dan Kami telah menjadikan pemimpin-pemimpin di kalangan mereka (Bani Isro’il) yang membimbing dengan petunjuk dari Kami tatkala mereka mau bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (As Sajdah: 24). Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dengan sabar dan yakin itulah akan bisa diraih imamah/kepemimpinan dalam ad dien.”
Dan sifat sabar termasuk salah satu ciri yang melekat pada diri para Rosul manusia-manusia paling mulia di atas muka bumi. Alloh Ta’ala berfirman, “Sungguh para Rosul sebelum engkau (Muhammad) telah didustakan maka mereka pun bersabar terhadap pendustaan itu, dan mereka disakiti hingga tibalah pertolongan Kami.” (Al An’am: 34). Demikianlah betapa agungnya sabar. Sampai-sampai Rosul bersabda, “Sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran.” (Arba’in no. 19)
Pengertian Sabar dan Macam-Macamnya
Sabar adalah menahan jiwa dari mendongkol, menahan lisan dari berkeluh kesah dan marah serta menahan anggota badan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan seperti menampar-nampar pipi atau merobek-robek kerah baju (Al Jadid fi Syarhi Kitab At Tauhid, hlm. 314). Sabar ada tiga macam;
(1) Sabar dalam ketaatan,
(2) Sabar dalam menahan diri dari melakukan kemaksiatan dan
(3) Sabar dalam menghadapi takdir Alloh yang terasa menyakitkan.
Di antara ketiga macam sabar ini, sabar dalam ketaatan adalah macam sabar yang tertinggi. Namun adakalanya bersabar dalam menahan diri dari kemaksiatan justeru lebih berat daripada bersabar dalam ketaatan.
Syaikh Al Utsaimin menjelaskan, Seperti misalnya cobaan yang menimpa seorang laki-laki berupa godaan wanita cantik yang mengajaknya untuk berzina di tempat sunyi yang tidak diketahui siapapun selain Alloh, sementara laki-laki ini masih muda dan memendam syahwat dalam dirinya. Maka bersabar agar tidak terjatuh dalam maksiat seperti ini menjadi lebih sulit bagi jiwanya. Bisa jadi mengerjakan sholat seratus rokaat itu lebih ringan baginya daripada harus menghadapi beratnya ujian semacam ini. (Al Qoulul Mufid, Syaikh Al Utsaimin)
Alloh Ta’ala berfirman, “Alloh mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imron: 146). Ujian demi ujian hendaknya justeru menempa kepribadian kita agar menjadi hamba yang semakin dicintai oleh Alloh Ta’ala, yang bersyukur bila mendapat nikmat, bertaubat bila berdosa dan bersabar dalam ketaatan, dalam menghindari maksiat dan tatkala menghadapi musibah. Wallohul musta’aan.
Monday, 5 October 2009
PATAHAN LEMBANG MENYIMPAN ANCAMAN
PATAHAN LEMBANG MENYIMPAN ANCAMAN
Friday, 17 July 2009 14:51
Potensi Bencana
Minggu pagi, 24 September 2000. Warga Bandung dikejutkan gempa bumi berkekuatan kurang dari lima pada skala Richter. Gempa itu merobohkan beberapa rumah di Gegerkalong (Kota Bandung) dan Lembang (Kab. Bandung Barat). Gempa itu tak urung menimbulkan kepanikan warga. Wajar jika warga khawatir, belum pernah terjadi gempa bumi besar di cekungan Bandung. Gempa bumi besar yang pernah tercatat terjadi pada 1910 di Padalarang.
Beberapa analisis ilmiah menyebutkan, potensi gempa bumi yang merusak terletak pada jalur patahan yang aktif. Salah satu patahan yang dikhawatirkan menimbulkan bencana besar adalah Patahan Lembang. Prediksi ilmuwan menyebut, jika Sesar Lembang aktif kembali, diperkirakan mampu mengakibatkan gempa bumi hingga berkekuatan 6,9 hingga 7 pada skala Richter di Kota Bandung.
Bukannya hendak mendahului takdir, bagaimana kalau bencana yang diprediksi itu benar-benar terjadi? Padahal, di lereng-lereng Sesar Lembang, kini telah dipadati penduduk. Tidak hanya itu, di sana juga mulai menjamur tempat-tempat hiburan yang menjadi tujuan wisatawan dari berbagai penjuru nusantara.
Bayangkan jika Patahan Lembang bergerak kembali? Bagaimana jika suatu saat jalur sesar itu bergeser kembali? Gempa bumi sebesar apa yang akan melanda kawasan itu? Berapa jiwa yang terancam jiwanya? Apa yang terjadi dengan lereng-lereng yang menjulang itu?
**
LANTAS, apa yang bisa dilakukan? Bermigrasi segera? Itu bukan jawaban yang tepat. Sebab, setiap tempat memiliki tingkat kerawanan bencana tersendiri. Mitigasi, itulah yang diperlukan.
Budi Brahmantyo dari Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB) mengatakan, mitigasi merupakan upaya untuk meminimalkan risiko bencana alam. Dan, itulah yang harus segera dimulai. Apalagi, hingga saat ini tidak ada alat yang bisa memprediksi kapan bencana terjadi. Yang diharapkan dari mitigasi adalah, "Begitu merasakan adanya gerakan, masyarakat sudah tahu langkah apa yang harus diambil."
Oleh karena itu, sudah seharusnya masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana memiliki pengetahuan cukup mengenai mitigasi. "Tentu tidak ada yang menginginkan terjadinya bencana," katanya.
Ya, soal mitigasi, barangkali masyarakat tidak bisa hanya bertumpu kepada pemerintah. Pada banyak bencana, korban yang jatuh sangat banyak. Satuan koordinasi pelaksana bencana alam baru bergerak ketika bencana sudah mengakibatkan korban. Harus diakui, soal mitigasi ini masih lemah. Bandingkan saja dengan Jepang yang juga memiliki potensi gempa yang besar. Namun, kesiapan mitigasinya "berhasil" meminimalkan jumlah korban yang jatuh saat bencana terjadi.
"Oleh karena itu, seharusnya semua orang mengenali kota tempat tinggalnya. Dengan demikian, mereka bisa mengenali potensinya pula, termasuk potensi bencananya," kata Budi.
Hal senada disampaikan oleh T. Bachtiar dari Masyarakat Geografi Indonesia. Mengenali bentang alam tempat yang didiami akan memudahkan masyarakat memahami pentingnya mitigasi. "Sehingga, ketika bencana itu terjadi, masyarakat tidak panik," katanya.
**
BACHTIAR menyebut contoh sederhana sebagai salah satu bukti ketidaksiapan Kota Bandung dan sekitarnya dalam mitigasi. Bangunan-bangunan, seperti mal, hotel, dan sebagainya, tak menyediakan petunjuk jalur-jalur evakuasi ketika sewaktu-waktu bencana terjadi. Paling banter, mereka menyediakan tangga darurat.
"Menurut kami, minimal, di setiap gedung harus ada denah. Denah itu menunjukkan jalur evakuasi apabila terjadi sesuatu. Dengan denah itu, setiap orang tahu di mana tempatnya saat ini. Mereka juga akan tahu jalur mana yang harus ditempuh untuk mengevakuasi dirinya," tutur Bachtiar. Denah tersebut, utamanya, penting bagi tempat-tempat wisata serta hotel-hotel. Mengingat di sana banyak wisatawan yang belum familiar dengan tempat yang sedang dikunjungi.
Bachtiar menjelaskan, seharusnya, pemerintah harus mulai membuat prosedur tetap (protap) yang ditempuh saat terjadi bencana. Protap tersebut berbeda-beda bagi setiap unsur masyarakat. "Protap untuk warga biasa berbeda dengan protap ketua RT/RW, polisi, juga pemda. Jadi, ketika bencana terjadi, semua unsur masyarakat itu bisa bergerak sesuai dengan fungsinya masing-masing. Hal semacam itu yang saat ini belum ada," katanya.
Langkah lainnya, soal mitigasi ini bisa dimasukkan pada pelajaran sekolah. "Kalau sekarang, guru geografi otomatis sudah memberikan. Tetapi, bagaimana dengan yang lain," kata Bachtiar.
**
DENGAN potensi bencana yang dimilikinya, kata Budi Brahmantyo, Kota Bandung seharusnya menjadi pelopor dalam hal mitigasi tersebut. "Bisa menjadi contoh untuk kota-kota yang lain," ujarnya.
Ia mengatakan, menanamkan pentingnya mitigasi bisa ditempuh melalui geowisata. Dengan itu, masyarakat akan mengenal lebih jauh kondisi alam daerahnya. "Potensi apa yang tersimpan di balik keindahan alam itu," katanya. Jika sudah mengenali alam, pikiran untuk merusak alam tentu tidak akan terlintas.
Manusia tak akan pernah tahu kapan alam akan menggeliat lalu menimbulkan bencana. Maka, berkarib-kariblah dengan alam. (Catur Ratna Wulandari/"PR") ***
Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Jum'at 17 Juli 2009
Sunday, 4 October 2009
Saturday, 3 October 2009
Tajikistan akan Membangun Masjid Terbesar di Dunia
Tajikistan akan Membangun Masjid Terbesar di Dunia
dakwatuna.com – Kairo. Menatap untuk menjadi pusat budaya dan sejarah terbesar di Asia Tengah dan di dunia, Tajikistan berencana membangun salah satu masjid terbesar di dunia.
“Masjid ini diharapkan menampung sekitar 150.000 orang,” kata seorang juru bicara Presiden Tajik dalam siaran pers yang dikutip oleh situs The Financial pada hari Senin (28/9).
“Konstruksinya diharapkan akan dimulai di Dushanbe pada bulan Oktober.”
Didanai oleh negara Teluk Qatar dan Uni Emirat Arab, masjid akan siap pada tahun 2014.
Dengan mencerminkan arsitektur tradisional Tajikistan, masjid akan dibangun pada areal seluas 7,5 hektar di tengah-tengah ibukota Dushanbe.
“Masjid akan dihiasi dengan sebuah menara megah, 7 kolom yang dilukis, mencitrakan tujuh tahap Allah SWT menciptakan dunia dan tujuh gerbang ke surga, serta waduk air dan air mancur, mencerminkan hubungan Tajikistan sebagai negara air murni,” kata juru bicara.
Tempat ibadah Muslim ini juga akan dibangun sebuah aula konferensi untuk pertemuan tingkat tinggi.
Juga akan memiliki sebuah museum dan perpustakaan.
Mega proyek ini juga mencakup pembangunan Universitas Islam selain masjid.
Tajikistan, salah satu dari lima negara Asia Tengah bekas Uni Soviet, memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1991.
Muslim merupakan hampir 90 persen dari 7,2 juta penduduk Tajikistan, menurut CIA factbook. (iol/hdn)
Monday, 14 September 2009
Bersabarlah Wahai Saudaraku
Seorang muslim sejati tidak pernah terlepas dari tiga keadaan yang merupakan tanda kebahagiaan, yaitu bila dia mendapat nikmat maka dia bersyukur, bila mendapat cobaan maka dia bersabar dan bila berbuat dosa maka dia beristighfar. Sungguh menakjubkan keadaan seorang muslim. Bagaimanapun keadaannya dia tetap masih bisa menuai pahala.
Betapa Mulianya Sabar
Diantara ketiga keadaan ini datangnya cobaan demi cobaan terkadang membuat hati kita mendongkol, lisan menggerutu dan tangan melayang lempar sana, lempar sini, tonjok kanan tonjok kiri. Lalu apa hasilnya? Ingatlah saudaraku semoga Alloh merahmatimu, sesungguhnya Alloh menjanjikan kebersamaan-Nya yang istimewa bagi orang-orang yang mau bersabar.
Alloh Ta’ala berfirman, “Dan bersabarlah kalian sesunguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar.” (Al Anfal: 46). Inilah kebersamaan khusus yang Alloh janjikan berupa penjagaan, pertolongan dan pembelaan di saat yang dibutuhkan. Bahkan dengan kesabaran jugalah kepemimpinan dalam agama bisa diraih.
Alloh Ta’ala berfirman, “Dan Kami telah menjadikan pemimpin-pemimpin di kalangan mereka (Bani Isro’il) yang membimbing dengan petunjuk dari Kami tatkala mereka mau bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (As Sajdah: 24). Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dengan sabar dan yakin itulah akan bisa diraih imamah/kepemimpinan dalam ad dien.”
Dan sifat sabar termasuk salah satu ciri yang melekat pada diri para Rosul manusia-manusia paling mulia di atas muka bumi. Alloh Ta’ala berfirman, “Sungguh para Rosul sebelum engkau (Muhammad) telah didustakan maka mereka pun bersabar terhadap pendustaan itu, dan mereka disakiti hingga tibalah pertolongan Kami.” (Al An’am: 34). Demikianlah betapa agungnya sabar. Sampai-sampai Rosul bersabda, “Sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran.” (Arba’in no. 19)
Pengertian Sabar dan Macam-Macamnya
Sabar adalah menahan jiwa dari mendongkol, menahan lisan dari berkeluh kesah dan marah serta menahan anggota badan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan seperti menampar-nampar pipi atau merobek-robek kerah baju (Al Jadid fi Syarhi Kitab At Tauhid, hlm. 314). Sabar ada tiga macam;
(1) Sabar dalam ketaatan,
(2) Sabar dalam menahan diri dari melakukan kemaksiatan dan
(3) Sabar dalam menghadapi takdir Alloh yang terasa menyakitkan.
Di antara ketiga macam sabar ini, sabar dalam ketaatan adalah macam sabar yang tertinggi. Namun adakalanya bersabar dalam menahan diri dari kemaksiatan justeru lebih berat daripada bersabar dalam ketaatan.
Syaikh Al Utsaimin menjelaskan, Seperti misalnya cobaan yang menimpa seorang laki-laki berupa godaan wanita cantik yang mengajaknya untuk berzina di tempat sunyi yang tidak diketahui siapapun selain Alloh, sementara laki-laki ini masih muda dan memendam syahwat dalam dirinya. Maka bersabar agar tidak terjatuh dalam maksiat seperti ini menjadi lebih sulit bagi jiwanya. Bisa jadi mengerjakan sholat seratus rokaat itu lebih ringan baginya daripada harus menghadapi beratnya ujian semacam ini. (Al Qoulul Mufid, Syaikh Al Utsaimin)
Alloh Ta’ala berfirman, “Alloh mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imron: 146). Ujian demi ujian hendaknya justeru menempa kepribadian kita agar menjadi hamba yang semakin dicintai oleh Alloh Ta’ala, yang bersyukur bila mendapat nikmat, bertaubat bila berdosa dan bersabar dalam ketaatan, dalam menghindari maksiat dan tatkala menghadapi musibah. Wallohul musta’aan.
